KRONOLOGI KEJADIAN HILANGNYA STN HINGGA DITEMUKAN MENINGGAL
Berdasarkan Keterangan Keluarga
Peristiwa ini bermula pada hari Jumat, 20 Februari 2026.
1. Sebelumnya, gitar milik Nona STN sering dipinjam oleh FRG. Biasanya gitar tersebut dipinjam dan kemudian dikembalikan di sekolah atau di rumah, karena keduanya bersekolah di SMP MBC Ohe dan sepengetahuan keluarga, hubungan mereka hanya sebatas teman
Namun, pada kejadian terakhir, setelah meminjam gitar, FRG tidak mengembalikannya di sekolah seperti biasa. Ia meminta STN untuk mengambil sendiri gitar tersebut di rumahnya.
2. Pada Jumat, 20 Februari 2026, sekitar pukul 17.00 Wita, Nona STN meminta sepupunya untuk mengantarnya ke rumah FRG guna mengambil gitar. Sepupunya bersedia mengantar. Ketika mereka tiba di Woloklereng, dusun tempat tinggal FRG, hujan lebat turun sebelum mereka sampai di rumah.
Keduanya kemudian berteduh di kios milik Bapak Geradus. Setelah hujan reda dan hari semakin sore, sepupunya mengajak Nona STN pulang serta menyarankan agar gitar diambil keesokan harinya. Awalnya Nona STN menolak, tetapi akhirnya sekitar pukul 18.00 Wita mereka pulang. Nona STN diantar sampai ke rumah dan masuk melalui dapur dengan menuruni tangga. Sepupunya kemudian langsung kembali ke rumahnya sendiri.
Namun, tanpa sepengetahuan orang tuanya, STN keluar lagi sendirian untuk mengambil gitar tersebut.
3. Sekitar pukul 18.30 Wita, dalam perjalanan, STN sempat bertemu dengan mama kecilnya. Ia sempat bertanya mengenai Dikta, anak dari mama kecilnya, dan menyampaikan bahwa ia hendak pergi mengambil gitar di rumah FRG. Setelah itu, mama kecilnya tidak mengetahui ke mana arah Nona STN pergi.
4. Sekitar pukul 20.00 Wita, ibu STN menghubungi keluarga dan menanyakan keberadaan STN karena yang bersangkutan tidak berada di rumah. Mama kecilnya kemudian teringat bahwa Nona STN sempat mengatakan hendak mengambil gitar di rumah FRG. Sekitar pukul 20.45 Wita, mama kecilnya dan suaminya berangkat ke rumah FRG.
5. Dalam perjalanan, bapak dan mama kecil bertemu dengan FRG di jalan setapak menuju rumahnya. Ketika ditanya apakah STN datang ke rumahnya, FRG mengatakan bahwa STN sudah datang, gitar telah diberikan bersama dua buah durian, dan STN sudah pulang. FRG juga mengatakan bahwa ia berada di rumah sendirian karena orang tuanya sedang menghadiri acara, dan listrik padam sehingga ia sempat meminjam senter kepada Mama Dominika Dole.
Keluarga kemudian berkesimpulan bahwa mungkin STN masih dalam perjalanan pulang, sehingga mereka kembali mengambil sepeda motor untuk mencarinya di sepanjang jalan menuju rumah STN.
Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan ayah dan kakek FRG yang baru pulang dari acara. Namun, karena mengira Nona STN masih dalam perjalanan, mereka tidak sempat berbicara dan langsung melanjutkan pencarian hingga tiba di rumah orang tua STN. Setibanya di sana, bapak dan mama kecil bertanya apakah STN sudah pulang, tetapi jawabannya belum kembali.
6. Sekitar pukul 21.30 Wita, keluarga memutuskan untuk pergi ke rumah FRG untuk bertanya kembali. Kedua orang tua STN serta mama kecilnya menuju rumah FRG. Setibanya di Woloklereng, ibu STN, mama kecilnya, dan Mama Dominika Dole menuju rumah FRG, karena Mama Dole yang mengetahui jalan menuju rumah tersebut.
7. Sekitar pukul 22.00 Wita, keluarga tiba di rumah FRG. Mereka bertemu dengan ayah FRG berinisial SG, ibu tiri FRG berinisial MT, kakek FRG berinisial VS, nenek FRG berinisial PB, serta dua anak kecil lainnya.
8. Mama kecil STN kemudian menanyakan kembali keberadaan STN kepada FRG. FRG menjawab bahwa STN sudah pulang sambil menunjuk ke arah jalan setapak yang, sepengetahuan keluarga, sudah sekitar 20 tahun tidak pernah dilalui masyarakat. Keluarga terkejut dan menyatakan kekhawatiran bahwa Nona STN mungkin tersesat. Namun, ayah FRG, yaitu SG, membantah dan mengatakan bahwa jalan tersebut sering mereka lewati.
Mama kecil STN kemudian meminta agar keluarga FRG mengantar melalui jalan tersebut, tetapi tidak ada yang bersedia. Keluarga akhirnya memutuskan untuk mencari sendiri melalui jalan yang ditunjuk, kemudian bertemu beberapa warga dan bersama-sama melakukan pencarian.
9. Keluarga dan masyarakat sekitar terus melakukan pencarian hingga pukul 03.00 Wita. Pencarian malam itu dilakukan sekitar lima kali. Pencarian pertama dilakukan oleh Bapak Kecil Eman dan istrinya. Pencarian kedua dilakukan oleh ibu STN, mama kecil, dan Mama Dole. Pencarian ketiga dan keempat dilakukan oleh warga masyarakat. Pada pencarian keempat, warga langsung menuju rumah FRG dan bertemu dengan SG, ayah FRG. Ketika ditanya mengenai FRG, SG mengatakan bahwa FRG sudah tidur. SG juga menyampaikan bahwa STN telah kembali ke rumahnya sejak tadi dengan membawa tiga durian, satu dimakan dan dua dibawa pulang. Pernyataan ini berbeda dengan keterangan sebelumnya yang menyebut dua durian.
10. STN ditemukan meninggal dunia di kali
Pada Minggu (22/2/2026), keluarga resmi melaporkan kehilangan tersebut ke Polsek Kewapante jajaran Polres Sikka Polda NTT. Aparat kepolisian bersama keluarga dan warga mulai menyisir sejumlah titik yang dicurigai.
Ironisnya, rumah yang terakhir didatangi korban diketahui dalam keadaan kosong sejak hari hilangnya korban. Fakta ini memunculkan tanda tanya besar di tengah masyarakat.
Senin siang (23/2/2026), pencarian kembali dilakukan dengan memperluas radius penyisiran. Sekitar pukul 14.00 WITA, seorang warga, Emanuel Mula (46), mencium bau menyengat dari arah Kali Watuwogat.
Rasa curiga membawanya mendekati tumpukan batu, rerumputan, dan potongan bambu yang tampak tidak lazim. Tumpukan itu seperti sengaja disusun. Ketika diperiksa lebih dekat, terlihat bagian tubuh manusia di balik susunan material alami tersebut.
Warga yang dipanggil untuk memastikan, akhirnya menyadari bahwa sesosok jasad perempuan berada di bawah timbunan itu. Dugaan kuat mengarah pada STN, siswi yang hilang sejak tiga hari sebelumnya. Suasana berubah mencekam. Tangis keluarga pecah di lokasi. Informasi segera diteruskan kepada aparat desa dan kepolisian.
Sekitar pukul 15.00 WITA, personel Polsek Kewapante bersama Tim Inafis dari Polres Sikka tiba di lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Garis polisi dipasang, warga diminta menjauh, dan proses identifikasi dilakukan secara cermat.
Jenazah korban kemudian dievakuasi ke RSUD TC Hillers Maumere guna pemeriksaan medis lebih lanjut. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal tim medis, ditemukan adanya indikasi luka pada tubuh korban.
Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa korban mengalami penganiayaan berat hingga meninggal dunia. Meski demikian, pihak kepolisian masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan untuk memastikan penyebab pasti kematian.