Ini Ibu Korban, Fakta Baru Soal Bocah Bunuh Diri Di NTT, Bantah Semua Isu Yang Beredar Sebelumnya

Ini Ibu Korban, Fakta Baru Soal Bocah Bunuh Diri Di NTT, Bantah Semua Isu Yang Beredar Sebelumnya

 




Sebelumnya beredar berita bahwa Penyebab YBR, siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), gantung diri karena korban kecewa karena tidak dibelikan buku tulis dan pulpen untuk keperluan sekolah.

Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, menjelaskan pada malam sebelum kejadian, korban berinisial YBR minta uang kepada ibunya untuk beli buku tulis dan pulpen. Namun, permintaan itu tak bisa dipenuhi ibunya karena kondisi ekonominya yang sulit.

Diketahui, YBR adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sejak berusia 1 tahun 7 bulan, ia tak lagi tinggal bersama ibu kandungnya dan ia dirawat neneknya di pondok sederhana berdinding bambu.


Ayahnya telah merantau ke Kalimantan sejak 11–12 tahun lalu dan tak pernah kembali.


Sehari-hari, selain bersekolah, YBR kerap membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar.


Untuk makan, mereka mengandalkan hasil kebun seadanya, pisang dan ubi menjadi menu paling sering.

Ibu Korban Buka Suara Bantah Isu tidak Bisa Beli buku dan Pena



Maria Goreti Te’a (47) ibu kandung bocah 10 tahun berinisial YBR yang meningaal gantung diri di Ngada NTT akhirnya buka suara.

Maria menceritakan bahwa sebelum kejadian itu terjadi, YBR pagi harinya mengeluh pusing dan tidak mau berangkat ke sekolah.

Namun karena khawatir ia tertinggal pelajaran, sang ibu tetap memintanya masuk sekolah. Hingga siang harinya, kabar duka itu datang.


Sang ibu kaget mendengar kabar bahwa anaknya sudah pergi meninggal dunia.

Terkait isu permintaan uang 10rb untuk beli buku dan pena yang tak diberikan, Maria  membantahnya. Ia menegaskan isu tersebut tidak benar adanya. Sumber : Tribunnews







Penyebab siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), gantung diri terungkap. Pemicunya korban diduga kecewa karena tidak dibelikan buku tulis dan pulpen untuk keperluan sekolah.

Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, menjelaskan pada malam sebelum kejadian, korban berinisial YBR minta uang kepada ibunya untuk beli buku tulis dan pulpen. Namun, permintaan itu tak bisa dipenuhi ibunya karena kondisi ekonominya yang sulit.


Dion menjelaskan YBR sehari-hari tinggal bersama neneknya. Rumah nenek dan ibunya berada di desa tetangga. Malam sebelum kejadian, YBR menginap di rumah ibunya untuk meminta uang tersebut.
"Menurut pengakuan ibunya permintaan itu korban minta (uang beli buku tulis dan pulpen) sebelum meninggal," ungkap Dion Roa dilansir detikBali, Selasa (3/2/2026).

Kondisi ekonomi ibu korban disebut memang sulit. Ia harus menanggung kebutuhan lima orang anak. Sementara ayah korban sudah berpisah sejak sekitar 10 tahun lalu.

"Hidupnya (ibu korban) susah," ujar Dion.

Diketahui, YBR ditemukan tewas gantung diri di pohon cengkih di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (29/1). Polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan saat mengevakuasi YBR.

Kepala Seksi (Kasi) Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R Pissort, membenarkan surat itu ditulis korban.

"Surat itu betul, petugas turun ke TKP temukan surat itu, anak itu yang tulis," kata Benediktus melalui sambungan telepon, Selasa (3/2)